Tiap-tiap ruang jantungnya hanya sepi
Berdegup memompa udara berbagai arah
Menyibak gorden yang kerap mengintip keluar jendela
Mencari suara-suara burung pagi
Hari ini tiada tawa menggema dinding
Di kursi yang dimakan usia
Lapuk dengan riwayat hangat seseorang yang saban sore
bercerita perihal kenapa matahari bersembunyi ke laut
Lalu tumpah seperti telur mata sapi pada mie rebus kita
Kamar mandi mulai kering
Tak ada percikan kaki-kaki surga
Bergembira ketika air gugur membawa lelah
Hanya remang-remang lampu
Dan hantu-hantu mengasuh bayang wajah putih
TV pun bernyanyi sumbang
Tentang jiwaku terperangkap mimpi basi
Disampingnya remot mati suri
Karena sepasang tangan tak lagi menekan tombol hidup
Air kran semacam cerewet
Satu per satu kalimat isyarat bahasa asing
Memusingkan piring yang kehilangan identitas diri
Malam berganti tubuh berkali-kali
Waktu sibuk melukis peta-peta hitam di dinding
Berharap, ketuk mantra pulang melarai rindu
Detak jam terus berlari-lari mengejar takdir
Kenangan tumbuh subur seperti jaring laba-laba
Hatiku tetap bertaut pada angka-angka pudar warna
Dan mataku mulai gila mendikte jarak: fatamorgana

0 Komentar