Tulisan
ini berangkat atas sebuah keresahan saya sebagai pembaca sekaligus sebagai
pengarang pemula. Barangkali perkara receh, tetapi sungguh krusial mengingat
Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi dan nasional Republik Indonesia dalam
berkomunikasi.
Secara
empiris, saya cukup sering menemukan penggunaan "di" yang keliru.
Pasalnya, saya temui pada buku, jurnal, artikel bahkan sesingkat caption tidak
luput dari kekeliruan.
Sebab,
bagi saya "di" tidak hanya bagian kaidah bahasa yang perlu diketahui,
tapi soal bagaimana suatu kalimat yang ada "di" di dalamnya dapat
mencapai tampilan estetika.
Oleh
karenanya, saya di sini ingin berbagi sedikit pengetahuan tentang penggunaan
"di" yang dipisah dan digabung, terutama teman-teman yang sekiranya
masih belum paham membedakannya.
1. Penggunaan
"di" Sebagai Kata Depan (Preposisi)
Berdasarkan
perannya terletak sebelum kata yang mengikuti, artinya penggunaan
"di" harus dipisah karena terdiri dari satu kata. Maka dengan ciri
umum kata-kata setelah "di" menunjukkan tugas sebagai keterangan
waktu dan tempat. Biasanya contoh yang sering saya temui:
Keterangan waktu
Di saat
Di kala
Di selang
Di masa
Keterangan
tempat
Di mana
Di sini
Di samping
Di atas
Adapun
beberapa contoh kalimat sebagai berikut:
Di mana rumah, Mas Dekri?
David menaruh topinya di atas meja
Jangan memotong rumput di sini
Di kala senja aku jatuh cinta
kepadamu
Aku akan melamarmu di masa yang akan datang
2.
Penggunaan
"di" Sebagai Imbuhan
Bisa
dibilang, imbuhan sama dengan awalan, artinya kehadiran "di" harus
digabung karena tidak berdiri sendiri. Maka, penggunaan "di" melekat
pada kata dasar yang mengubah bentuk jadi kata kerja (pasif). Contohnya:
Kata kerja (pasif)
Dicintai — kata dasar: cinta
Dipeluk — kata dasar: peluk
Dimakan — kata dasar: makan
Disiram — kata dasar: siram
Ditunggu — kata dasar: tunggu
Kemudian contoh kalimatnya sebagai berikut:
Aku dicintai dengan luar biasa
olehnya
Aku ingin dipeluk ketika aku sedang
menangis
Nasi goreng itu dimakan habis oleh
Ica
Jangan lupa disiram setelah
membuang air kecil
Silakan ditunggu, ya, Mas
Singkatnya, jika "di" sebagai kata depan dengan diikuti kata waktu dan tempat, maka ditulis terpisah. Jika "di" sebagai imbuhan dengan diikuti kata dasar jadi kata kerja (pasif), maka ditulis serangkai.
Tips
saya untuk teman-teman agar mudah mengetahui penggunaan "di" sebagai
kata depan atau imbuhan pada suatu kata adalah dengan merujuk konteks kalimat.
Cermati dua kalimat di bawah ini:
Jangan dibalik kompornya, Hayati.
Bahaya!
Ada harimau di balik batu itu
Meskipun
sama-sama menggunakan kata "balik", tetapi perbedaannya cukup jelas,
bukan?
Nah,
teman-teman hanya perlu melihat konteks kalimat menceritakan hal apa, sehingga
dalam kalimat tersebut lebih tepat penggunaan "di" yang mana.
Tips
di atas tinggal teman-teman praktikkan sambil dibiasakan. Siapa tahu nanti mau
menulis sebuah karya berupa buku atau karya tulis lainnya, tidak lagi
kebingungan dan keliru dalam penggunaan "di" yang dipisah atau
digabung. Semoga membantu, ya.
Selamat berkarya.

0 Komentar