Hari Minggu, sepasang kekasih sedang melaksanakan pertemuan. Selepas magrib untuk memutuskan duduk santai di tepian pantai. Pada remang-remang, senja masih terlihat tumpah berwarna jingga. Langit barat laksana berwarna indah dan memesona. Di hadapan laut, Rival dan Sarah menghabiskan waktu bersama di tengah desir ombak yang menggulung segala percakapan apa saja.

"Val, aku rasa, aku tak cukup cantik sekarang, ya?

"Hah?! Jangan sembarangan bicara!"

"Di tiap linimasa media sosial, apalagi Instagram dan Tiktok. Perempuan di sana, seperti sempurna"

"Astaga, kamu terlalu banyak mengkonsumsi foto atau video yang tak penting."

"Menurutmu, aku cantik?"

"Sarah, dengar! kamu itu cantik. Cantik tak melulu perihal wajah tanpa cerawat melainkan bagaimana cantik dari dalam, terpancar dengan tulus.”

"tapi—"

"hei, kamu hanya perlu melihat dirimu sendiri dari apa yang kamu punya, bukan dari apa yang enggan kamu terima. Kamu pun tahu, semua perempuan itu cantik. Tak ada yang tidak."

"hhmm, ya."

"Ragumu adalah kejahatan terhadap dirimu sendiri. Orang lain boleh menganggapmu tak cantik, tetapi bagiku kau lebih cantik dari mereka bicarakan. Penilaian orang lain kadang mungkin bagimu merasa tidak percaya diri, tetapi bukan berarti meredupkan cahaya yang ada di dalam dirimu."

Mereka pada akhirnya saling memandangi, Sarah tersenyum menawan, hingga kemudian Rival tertawan.

"Itu gunanya aku hadir di Bumi, sebab menjaga langitku tetap merekah cerah dan cantik jingga warnanya." Rayuan spontan Rival itu membuat Sarah salah tingkah sambil menyingkirkan wajah Rival malu-malu.