Senantiasa banyak motif orang-orang ingin menulis, tak jarang, berbagai aspek atau sudut pandang berupa peristiwa dan momen yang terjadi melahirkan pemicu untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Seperti patah hati ditinggalkan kekasih, terlalu menumpuk genangan pikiran di kepala, atau mungkin hanya sekedar mengabadikan hal-hal penting bahkan hal remeh-temeh sekalipun. Sayang rasanya, peristiwa ataupun momen yang terjadi, lalu terlewatkan begitu saja. Kemudian, benar-benar hilang tanpa bisa menariknya kembali.

Maka, alih-alih dapat menguasai teknik menulis yang baik dan benar, tentu sebelum hal itu amat penting terlebih dahulu penguasaan diri, supaya kegiatan menulis bukan perihal melelahkan tetapi menyenangkan.  

Nah, terkait penguasaan diri ini, saya rakum menjadi 5 point, di antaranya :

  • Kendalikan Pikiranmu

Menyesakkan memang,  pikiran digrogoti oleh omongan-omongan yang menjatuhkan. Sebab, perkataan alay, lebay, sok bijak, sok indie, dan segala sok negatif lainnya. Itu semua pengendalian eksternal yang kadang sukar dikendalikan, tetapi jika tak lupa membangun kepercayaan diri (internal) guna memperkukuh niat dalam melakukan kegiatan menulis. Niscaya, pikiran sendiri yang sebenarnya teman baik sekaligus musuh terkejam dapat dikendalikan. Sehingga perkara untuk memulai menulis tidak lagi memikirkan soal apa kata orang lain, melainkan lebih fokus terhadap memperbaiki kualitas tulisan. Jadi, tanamkan di dalam hati, kamu menulis sepenuh hati. Tumbuhkan di dalam pikiran, kamu menulis segenap jiwa.

  • Minat yang Bagus Terhadap Kegiatan Membaca

Senjata api tanpa peluru adalah kegagalan fatal ketika hendak menembak, sama halnya dengan menulis tanpa kegiatan membaca lantas akan berantakan ketika hendak menulis. Satu lagi, makan. Makan supaya kenyang dan berenergi untuk beraktivitas kembali. Begitupun membaca, maka sebuah bacaan tidak luput dari bagaimana diri mencernanya agar nanti menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan sarat makna. Mengutip wajengan penulis best seller JS Khairen: isi kepala dengan membaca ilmiah, isi hati dengan membaca fiksi. Alhasil, lebih banyak membaca writer blok teratasi dan mumet saat menulis berkurang.

  • Selalu Kepo dan Mengikuti Perkembangan Dunia Tulis-Menulis

Seumpama menyukai seseorang, otomatis kamu akan mencari informasinya. Mulai scroll Instagram, Facebook, dan media seosial lainnya. Pun, menanyakan ke teman-teman atau sahabatnya, agar kamu paham kehidupannya. Serupa seumpama barusan, menulis pun begitu, kamu harus selalu melek tentang dunia tulis-menulis, baik itu soal preposisi, leguistik, pemilihan diksi yang tepat, kalimat efektif, dan sebagainya. Apa pun itu yang berkaitan, pengetahuan dunia tulis menulis perlu kamu cari tahu dan pelajari.

  • Punya Ketertarikan Terhadap Kosa Kata Baru

Menabung tidak melulu tentang uang, tetapi punya ketertarikan terhadap kosa kata baru pun adalah awal dari menabung. Maka, membaca adalah cara menambah tabungan, sedangkan menulis adalah mengawetkan isi tabungan. Lantas, kosa kata baru yang masih belum kamu tahu, berusaha kamu cari artinya serta sinonimnya. Karena itu, sering-sering buka KBBI dan Tesaurus di mana berbagai diksi atau kata serta sinonim bisa kamu temui, kapan perlu downlod aplikasi tersebut di gawaimu hingga proses menulis dapat meragamkan pemilihan kata justru membuat kalimat lebih bernyawa.

  • Menjadikan Menulis Rute Pulang dan Rumah Ternyaman

Maksudnya, ketika ada sesuatu yang menjanggal di hatimu: marah, sedih, patah hati, lara, kecewa, bahagia, senang dan emosi sejenisnya, tuangkan ke dalam tulisan. Ketika kamu meluangkan waktu untuk menulis, jadikanlah rute pulang, pulang yang sukacita. Dan, jadikanlah rumah ternyaman—pulang yang benar-benar mengerti dirimu sendiri, rumah dari segenap kebahagiaan dan kelegaan.

Sebagaimana manfaat menulis oleh ilmu psikologi yang meliputi kesehatan mental, bahwa rutin menulis jurnal setiap hari cukup membantu sembuh perlahan terhadap segala emosi yang mungkin saja terlalu bising dan butuh dituangkan. Maka, tulis saja sesuai apa yang kamu rasa dan jujur terhadap dirimu sendiri. Sebab jadi salah satu sarana mengenal dan mencintai dirimu sendiri—barangkali tidak semua orang akan merasakannya, tetapi sebagai alternatif sungguh berguna.

Itulah point-point yang menjelaskan penguasaan diri agar menulis jadi terarah. Semoga tulisan pendek ini membantu dan dapat dipahami dengan baik.

Semangat menulisnya

Selamat berkarya 

Semoga senantiasa bahagia