Waktu menjelang petang, di taman, seorang gadis anggun berkerudung biru meringkuk sendirian dengan kesibukan yang barangkali ia sukai, semacam sedang menulis sesuatu—sampai sedemikian kedap suara di sekitar baginya. Meski tidak terlalu dekat, Rival tentu tahu gadis itu, Sarah, teman sejurusannya yang kenal tatkala hari pertama masuk kuliah. Penasaran, Rival perlahan-lahan menghampiri.
"Tampaknya sibuk."
"Lumayan."
"Lagi menunggu seseorang?"
"Tidak."
"Boleh aku duduk di sini?"
"Tentu."
Diam mengantarkan Rival pada kecanggungan. Sarah yang seolah-olah bersikap cuek, membuat Rival sukar menemukan celah untuk membangun obrolan. Tak lama kemudian, tiba-tiba Sarah bertanya.
"Menurutmu, apakah cinta dalam diam itu mesti diungkapkan atau malah tetap disimpan rapat di hati?"
Rival tertegun, sontak menjawab sebisanya, "Ya. Kau tidak akan tahu, bahwa hidup yang penuh misteri ini menyimpan kejutan yang menakjubkan. Maksudku, kau bisa saja bertahan dengan perasaan tersebut, tetapi hidup cuma sekali, kenapa tidak kaucoba ungkapkan? Menurutku, tidak ada salahnya perempuan mengungkapkan perasaannya duluan. Sebab, semua perasaan adalah eksistensi yang layak dipertimbangkan. Setidaknya, kau berani jujur dan mendapatkan jawaban sebelum segalanya hanya tinggal kenangan belaka."
"Oh, ya. Baiklah."
"Apa? Terlalu diplomatis tanggapanku?"
"Tidak. Kau benar. Sebaiknya aku ungkapkan saja."
"Ya. Jangan sampai kau menyesal."
Sarah meninggalkan secarik kertas tepat di sebelah Rival, lantas beranjak pergi menjauhinya yang kian nanar.
"Hai, ke mana? Apa aku menyakitimu?"
"Aku sudah melakukannya."
"Hah?! Melakukan apa?! Haii."
"Di kertas itu. Lihatlah!"
Bersama sisa kebingungannya, Rival mengambil secarik kertas tersebut, khidmat ia baca, kemudian memahaminya. Rival mengernyut dahi, lalu bergeming sejurus lamanya atas apa yang termaktub di dalam tulisan itu.
"Hai, kita cukup sering bertemu karena memang satu jurusan. Aku tak terlalu cakap berkomunikasi apalagi denganmu yang jadi penyebab degup jantung, tentu itu pula sebabnya sekadar menyapamu, senyum tanggung yang bisa kuandalkan.
Kau pria unik, menyukai kacang panggang dan bakso. Kau tidak suka makan udang. Dan, buku favoritmu adalah Way to Live Forever karya Sally Nicholls.
Barangkali aku diselimuti gengsi dan terkungkung premis patriarki soal perasaan perempuan, hingga mencintaimu lewat doa dan senantiasa memperhatikanmu dari jauh. Namun, jika ada sebaik-baiknya kesempatan, maka sesederhana kalimat aku beranikan diri untuk bilang, aku mencintaimu, Rival. Sungguh."
Benar-benar Rival tak menyangka, hari ini, ia menyadari seseorang yang sejak dulu ia suka ternyata mencintainya dalam diam. Sebuah kebetulan yang tidak disengaja sekaligus menyenangkan.
***
Cinta sama halnya dengan hidup, penuh misteri. Mereka seperti beriringan, memberi tirai kejutan untuk orang-orang yang percaya. Sebab, kekuatan sebesar itu, cinta tak pernah tumbuh sia-sia.
0 Komentar