Zaman kian pesat berkembang, kemudahan mulai mengendalikan manusia dalam melakukan segala sesuatu. Termasuk ketika seseorang mencintai lawan jenisnya. Begitu banyak cara dan alternatif untuk mengungkapkannya. Namun, tetap saja menjadi dilema di ranah asmara, bahwa bibir seringkali mengatup bisu saat bertemu, takut sakit hati di kala ketikan berisi rasa cinta malah dibalas 'kita kan cuma teman'.

Ketakutan dan kecemasan dalam mengungkapkan adalah persoalan krusial bagi mereka yang tidak percaya diri. Meski mereka tahu, kesempatan hanya datang satu kali. Alih-alih agar tingkat keberhasilan atas penerimaan terealisasi, sehingga metafora, frasa saintifik, kata-kata indah dan kalimat-kalimat puitis, berusaha membangun kepercayaan. Sayangnya, pun tidak mampu mengurung niat perasaan terbuka oleh rahasia.

Apalagi ada premis yang mendominasikan pola pikir perihal perempuan itu tidak seharusnya duluan mengungkapkan perasaan. Konsep patriarki demikian, menjalar di tiap perempuan ketika mereka mencintai lelaki. Sebagaimana laki-laki, tidak ada salahnya mengatakan duluan, tidak ada hukuman yang memberatkan. Semua perasaan adalah hak individual. Larangan tersebut atau standar yang menjamur di tatanan sosial merupakan hilangnya kemerdekaan atas perempuan dalam mengungkapkan perasaannya.

Sebagai contoh kecil, barangkali segelintir perempuan, semisal menanyakan kelanjutan hubungan yang diam-diaman karena LDR. Itu juga penjara perasaan yang melumat pertanyaan untuk memenuhi keinginan hati dan kegelisahan pikiran. Gengsi meraja, ketakutan asumsi soal nanti dikatakan terlalu berharap. Alhasil, polemik hati, pikiran dan diri sendiri, membuat batin tersiksa dengan banyaknya kesumat pikiran pelik.

Ironis memang, tetapi justru diam dan memendam, secara tidak langsung tanpa kita sadari adalah tindakan kejahatan kepada diri sendiri. Tidak mudah memang, tetapi bukankah ketika mencoba melawan hal itu, kita selalu punya dua jawaban: baik dan buruk. Menyenangkan dan menyakitkan. Ketimbang sikukuh diam dan memendam, selalu tak ubahnya hanya satu jawaban: penolakan.

Jadi, jika sekiranya perlu diungkapkan, lakukan saja. Jika sekiranya dirasa menjanggal, bilang saja. Sudah cukup di negeri ini berantakan terhadap sederet laporan yang berani mengungkap kejahatan atau kriminalisasi yang sesungguhnya butuh rangkulan naungan. Namun, kita jangan. Kita setidaknya merdeka sedari pikiran dan diri sendiri.

Maka terlepas dari itu, tak apa. Sungguh. Sebab, kejujuran yang melibatkan cinta di dalamnya adalah sebaik-baiknya perasaan yang layak dipertimbangkan eksistensinya.

Tabik Bhang Izhik