Kita adalah sepasang pertanyaan yang rancu. Kita terus bertanya. Kau terus bertanya; apakah aku menyayangimu? Masihkah aku mencintaimu? Apakah aku bahagia denganmu? dan apakah-apakah yang lain. 

Pun aku hendak bertanya, tapi percuma saja. Semuanya aku usahakan menjawab sendiri, walau tidak benar-benar aku yakini itu—hingga pertanyaan; mengapa kita masih bertahan? 

Lagipula, kita hanya takut untuk memilih, sebab di antara kedua pilihan—pisah atau bertahan—kita sama-sama akan mendapatkan luka. 

Sehingga, kita lebih memilih dan memutuskan tetap bertahan, meski kadang toxic, berbeda pendapat dan bahkan bosan kian melanda. Daripada kian berantakan, kita mencoba memperbaiki yang ironisnya kerap enggan memahami.