Hujan pun reda, dengan tatap mata nanar, terlihat di dedaunan embun bergantungan seakan
ranggas, sehingga menyeretku untuk teringat sesosok wanita anggun dan apa
adanya, yang tak sengaja kukenal di Gramedia ketika ia hendak mencari buku yang
kebetulan sama persis dengan buku yang kucari.
Hanya
beberapa pertanyaan seputar buku yang kami cari, dan bisa dibilang percakapan
singkat yang berujung saling bertukar akun Instagram. Karna aku terburu-buru
untuk lekas pulang, aku berpamitan dengan berat hati sembari menjauh dari
tempatnya duduk. Kataku ia sedang membaca dengan khitmad, ternyata ia mencoba
menyembunyikan bening yang mengenang di ujung matanya—seperti air mata tertahan.
Aku tak bisa berbuat apa-apa, jarak di antara kami sudah memisahkan raga.
Jika
aku diberi kesempatan (lagi), aku ingin menemani keadaan buruk
hatinya—takkan kubiarkan ia memikul beban sendirian.
Namun,
hari ini. Khusus hari ini. Lewat instastory, kabarnya kembali terlihat. Baik
tampaknya. Entah itu benar atau tidak, atau ia kembali berpura-pura. Entahlah.
"Terima
kasih masih bertahan dan tetap ada di Bumi. Semoga baik-baik saja dan
senantiasa bahagia." Balasku menanggapi ceritanya.
0 Komentar